Jumat, 22 Juni 2012

Ringkasan

Alisha Zubairi dinyatakan menderita leukemia kronis saat dia kelas 5 SD. Walaupun dia merasa takut dan menderita, dia berusaha terlihat biasa di depan keluarganya. Awalnya keluarganya melarangnya untuk kembali ke sekolah, tapi dia menolak dan tetap pergi sekolah dan melakukan semua kegiatan seperti biasa, termasuk latihan Silat, Karate, dan Tae Kwon Do yang masih dia tekuni sampai saat ini, dan saat ini dia baru saja ke masa putih abu-abu. Walaupun kondisinya semakin parah, tapi Alisha tetap tenang dan bersikap seperti biasa. Dan Alisha merahasiakannya dari sekolah dan teman-temannya, bahkan keluarga besarnya pun tidak ada yang tahu.

Kenzie Adhigana adalah teman sebangku yang ditentukan oleh wali kelas X-3, Suhesty Rahayu. Selama satu tahun, Kenzie akan menjadi teman sebangku sekaligus partner dalam setiap tugas berpasangan dengan Alisha. Bagi Kenzie, Alisha yang terkenal kelembutan, baik, dan sifat menerima apa adanya itu adalah sebuah hiburan. Dua minggu pertama, Kenzie sangat menikmati kehadiran Alisha, apalagi Alisha sama sekali tak melawan dan hanya diam, bahkan tersenyum.

Bagi Alisha, Ken hanya iseng dan tidak bermaksud buruk, tapi bagi Rena Novarina, sahabat Alisha sejak kecil, juga Geraldo Ramadhan, teman kecil Ken yang menyukai Alisha, perbuatan Ken selalu memancing amarah mereka, meski Gerald bukan tipe orang yang berani marah seperti Rena, apalagi marah pada Ken yang sudah seperti saudara baginya. Sementara Rena marah dan terus memperingatkan Ken mengenai sikapnya pada Alisha, Gerald hanya bisa diam dan menyimpan perasaannya.

Sebulan berlalu. Karena menderita leukemia kronis sejak kelas 5 SD, setiap dua bulan sekali Alisha pergi ke RS Dharmaid di Jakarta untuk menjalani kemoterapi. Bulan Agustus 2009, Alisha pergi diantar ibunya yang seorang perawat di UGD di RS Haji Jakarta Timur. Saat itu, Alisha masuk ke dalam ruangan, dan tanpa sadar saat itu Ken yang sedang mengantar ibunya untuk kemoterapi karena menderita kanker otak melihat Alisha berjalan masuk ke ruang kemoterapi. Ruangan kemoterapi ibunya dengan Aisha bersebelahan. Saat ibunya kemoterapi, Ken pergi memastikan. Dia melihat Alisha sedang berbaring di atas kasur dengan tangan terkulai lemas yang terhubung dengan selang dan dada yang terpasang banyak kabel yang terhubung dengan monitor pemantau jantung, serta selang oksigen di hidungnya. Ken syok melihat itu, dan dia tak bisa terus melihat Alisha yang terlihat begitu tak berdaya. Dia langsung pergi dari depan ruang kemoterapi Alisha dan kembali ke ibunya.

Dua hari kemudian adalah hari Senin. Alisha datang ke sekolah. Dia bertemu dengan Ken di dekat meja piket guru. Ken sedang berjalan, dan dia menyusul Ken untuk pergi ke kelas bersama-sama. Ken terkejut menyadari kehadiran Alisha di sampingnya saat menaiki tangga. Alisha menyapanya, tapi Ken hanya terdiam dengan wajah terkejut dan mata terbelalak. Alisha hanya diam karena heran, tapi Alisha segera menyadarkan Ken. Ken langsung tersadar dan memasang sikap dingin dan menyebalkannya itu. Alisha tak marah, bahkan dia terdiam heran. Ken pergi lebih dulu meninggalkannya, jadi Alisha segera menyusulnya begitu Ken sudah tiba di lantai dua.

Lima hari berlalu. Hari Sabtu minggu kedua di bulan Agustus, Ken menjemput Alisha di rumahnya untuk pergi ke Toko Buku Gramedia untuk membeli perlengkapan tugas Bahasa Inggris. Setibanya di Gramedia, mereka bergegas membeli karton dan kertas lipat, lalu pergi ke rumah Gerald untuk mengerjakannya bersama dengannya dan Rena. Tapi, Ken memaksa Alisha untuk menemaninya sebentar berjalan-jalan di Pondok Gede Plaza. Saat berjalan-jalan itu, Alisha sadar bahwa ada sesuatu yang sedang mengusik pikiran Ken. Karena belajar bersamanya masih satu jam dari saat itu, Alisha mengajak Ken untuk pergi membeli donat di J.CO dan berbicara dengan Ken, berharap dia bisa membantu Ken.
Setelah Alisha dan Ken memesan donat, mereka mencari tempat duduk dekat pagar dengan meja dua kursi. Setelah Alisha mendapatkan gigitan pertama untuk donatnya, dia bertanya pada Ken, lalu meminta Ken untuk menjelaskan apa yang membuat Ken berubah sikap padanya dan selalu terlihat seperti banyak pikiran. Awalnya Ken tak mau berbicara, tapi akhirnya Ken mau bicara saat Alisha bilang, "kamu sudah tahu kondisiku, ya?", dan saat itu Ken meminta maaf pada Alisha dengan penuh penyesalan.
Sejak hari itu, Ken menjadi sosok laki-laki yang perhatian, meskipun sikapnya dingin dan sering mengomeli Alisha jika dia sudah kelelahan dan kondisinya memburuk. Sejak hari itu, Ken menyadari perasaannya pada Alisha, tapi dia diam untuk beberapa saat untuk mengungkapkan perasaannya pada Alisha.

Hari, minggu, bahkan bulan berlalu tanpa terasa. Semakin kuat perasaan Ken terjadap Alisha, dan semakin kuat juga rasa suka Gerald pada Alisha. Di sisi lain, Rena menaruh rasa suka pada Gerald. Semua semakin kompleks, apalagi saat Gerald mendengar langsung dari Ken bahwa dia menyukai Alisha dan berniat menyatakan perasaannya. Gerald merasa sakit hati mendengarnya, tapi dia tak bisa melawan Ken karena Ken tak tahu perasaannya pada Alisha. Karena tak bisa melawan, maka Gerald terus berusaha mendekati Alisha dan menyatakan perasaannya pada Alisha. Dan di saat yang bersamaan, Rena juga ingin menyatakan perasaannya pada Gerald.

Waktu membuat Rena mendapatkan kesempatannya lebih dulu. Dia menyatakan perasaannya pada Gerald, tapi Gerald menolak saat dia bilang bahwa dia menyukai Alisha. Sejak Rena tahu hal itu, Rena terus menjauhi dan sering berbicara kasar pada Alisha. Alisha yang polos dan tak tahu apa-apa pun tidak bisa marah, karena akan memperburuk kondisinya. Hingga suatu hari, Rena benar-benar sedang dilanda rasa iri dan sebal yang besar sampai dia menampar wajah Alisha di depan teman-teman sekolahnya. Dan di saat yang bersamaan, kondisi Alisha sedang sangat buruk. Tamparan dari Rena yang penuh tenaga itu berhasil membuat tubuh Alisha yang lemas itu terjatuh di atas lantai dan langsung tak sadarkan diri dengan hidung mengeluarkan darah yang tak berhenti. Ken baru saja masuk ke kelas saat itu terjadi. Tanpa memikirkan apa-apa, dia langsung mengangkat tubuh Alisha dan membawa Alisha pergi dari kelas, bahkan dia tidak berkata apa-apa. Dengan motornya, dia membawa Alisha pergi ke RS Haji. Saat itu juga Alisha dibawa ke ruang ICU.

Selagi Alisha terbaring koma, Injuice pun membrutal, apalagi Ken terpaksa harus bekerja sendirian. Setiap habis bekerja sebagai Sleuth, Ken menjenguk Alisha, berharap Alisha bisa kembali sadar, lalu kembali bekerja bersamanya, meski dia tahu hal itu sangatlah mustahil. Tapi, untuk saat ini, yang Ken harapkan adalah melihat Alisha bisa tersenyum lagi untuknya meskipun untuk terakhir kalinya.
Meski Alisha koma dan dirawat, tak seorang pun tahu kondisi Alisha yang sebenarnya, bahkan Rena yang menyebabkan Alisha koma tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu bahwa Alisha tidak masuk sekolah karena terserang tifus. Dan selama seminggu, Alisha tidak datang ke sekolah, dan tidak juga dijenguk, karena sekolah tidak ada yang tahu keberadaan Alisha, kecuali Ken.

Di saat-saat Alisha masih juga tak masuk sekolah setelah seminggu berlalu, Injuice pun membrutal. Mereka menyerang kediaman Presiden Yoga. Ken terpaksa bekerja sendirian. Tapi, serangan Injuice kali ini jauh lebih besar dan lebih kuat pertahanannya dibanding sebelum-sebelumnya. Ken kewalahan dan mendapatkan banyak luka, padahal dia belum bisa melewati barikade pertahanan Injuice di depan rumah Presiden, meskipun sudah mendapat bantuan dari polisi dan tentara. Namun, tak disangka-sangka, hadir Sleuth terkuat, Sleuth-A, yaitu Alisha. Dia sadar dari koma yang sudah dialaminya lebih dari seminggu.

Selama ini, Alisha tidak terlihat di dekat Ken selama Ken bekerja sebagai Sleuth. Begitu melihat sosok Sleuth-A, semua orang menghela napas lega, seakan-akan harapan untuk menang yang sempat hilang kini telah kembali. Tapi, siapa sangka, bahwa hari itu adalah hari Alisha dapat bekerja sebagai Sleuth. Alisha meninggal dunia karena penyakitnya tiga hari setelah serangan Injuice ke kediaman Presiden, tepat saat hari ulang tahun Ken yang ke-16.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar